ID Card Nyemplung ke Kuah Sup, Dua Petugas Dapur MBG di Polewali Mandar Terluka Tersiram Air Mendidih
Polewali– Sebuah insiden tak terduga berujung luka bakar terjadi di dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kelurahan Pekkabata, Polewali, Sulawesi Barat. Dua orang petugas dapur menjadi korban setelah kuah sup panas yang mereka pindahkan tumpah dan menyiram tubuh mereka. Kejadian yang berawal dari upaya menyelamatkan ID card ini menyebabkan satu korban, Muhajjirin (24), harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar serius.

Baca Juga : Ribuan Santri Wonomulyo Siap Semarakkan Apel Gabungan Hari Santri 2025
Kronologi: Dari ID Card yang Nyaris Jatuh Hingga Bencana yang Mengintai
Insiden yang terjadi pagi itu berawal dari rutinitas tim dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sedang memindahkan kuah sup matang dari tempat memasak ke meja packing. Suasana yang semula penuh konsentrasi berubah menjadi panik dalam sekejap.
Menurut kesaksian salah seorang rekan korban, Yohanis, tragedi ini sebenarnya bisa dihindari. “Sebelumnya, rekannya yang lain sudah mengingatkan untuk tidak mengangkat wadah kuah sup itu karena kondisinya masih sangat panas dan berat,” ujar Yohanis, menggambarkan awal mula insiden.
Namun, nampaknya peringatan itu tidak cukup. Saat Muhajjirin dan rekannya mengangkat wadah besar berisi sup mendidih, sebuah hal kecil dan tak terduga terjadi: ID card yang dikalungkan di leher Muhajjirin nyaris terlepas dan jatuh ke dalam wadah sup.
“Dalam upaya refleks untuk menangkap ID card yang hampir jatuh itu, keseimbangan mereka terganggu. Wadah yang berat dan panas itu tidak lagi bisa ditahan dengan kuat. Akhirnya, kuah sup mendidih yang berisi campuran sayuran dan daging itu tumpah dan menyiram kedua petugas, terutama mengenai tangan dan bagian tubuh mereka yang lain,” jelas Yohanis dengan suara bergetar.
Korban Dievakuasi, Aktivitas Dapur Tetap Berjalan
Akibat insiden tersebut, Muhajjirin mengalami luka bakar yang cukup parah di tangan kanannya. Kulitnya melepuh dan terkelupas akibat siraman kuah yang baru saja mendidih. Ia pun segera dievakuasi menggunakan mobil untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Sementara itu, rekannya yang turut menjadi korban dinyatakan lebih beruntung. Ia hanya mengalami luka bakar ringan dan setelah diberikan pertolongan pertama, pihak medis memutuskan untuk memulangkannya agar bisa beristirahat di rumah.
Meski ditinggal dua anggotanya, tim SPPG menunjukkan komitmen dan tanggung jawabnya. Yohanis menegaskan bahwa aktivitas pengiriman MBG ke sejumlah sekolah tidak terganggu. “Kami harus tetap melanjutkan distribusi. Anak-anak di sekolah sudah menunggu,” katanya dengan tekad bulat.
Klaim Keselamatan Kerja dan Evaluasi SOP
Menanggapi insiden ini, banyak yang mempertanyakan prosedur keselamatan kerja (K3) di dapur MBG. Yohanis, mewakili tim, membantah adanya kelalaian dalam hal ini.
“Kami ingin menegaskan bahwa pekerjaan di dapur ini tetap safety dan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Semua petugas, termasuk korban, pada saat kejadian telah mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang standar, seperti sarung tangan dan apron. Insiden ini adalah murni kecelakaan kerja yang tidak terduga, dipicu oleh momen spontan untuk menyelamatkan barang pribadi,” paparnya secara detail.
Namun, insiden ini tentu menjadi cambuk untuk melakukan evaluasi. Pertanyaan seperti apakah jenis APD yang digunakan sudah cukup melindungi dari risiko cairan panas, atau bagaimana posisi mengangkat beban berat yang lebih aman, perlu menjadi bahan koreksi mendalam.
Kejadian ini menyisakan pelajaran berharga bagi semua pihak yang bekerja di lingkungan dengan risiko tinggi. Terkadang, bahaya terbesar justru datang dari hal-hal sepele yang tidak terduga, seperti selembar ID card yang nyaris terjatuh.