Rabu, 6 Mei 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Peta WisataPeta Wisata
Peta Wisata - Your source for the latest articles and insights
Beranda Berita Video Amatir Ungkap Aksi Bullying Keji Di SMK Sulb...
Berita

Video Amatir Ungkap Aksi Bullying Keji Di SMK Sulbar, Pelaku Anak Kepala Sekolah Sendiri

Dosa Besar di SMK Polewali Mandar: Anak Kepala Sekolah Jadi Pelaku Bullying, Korban Trauma hingga Sakit Punggung dan Leher Polewali- Sebuah video

Video Amatir Ungkap Aksi Bullying Keji Di SMK Sulbar, Pelaku Anak Kepala Sekolah Sendiri

Dosa Besar di SMK Polewali Mandar: Anak Kepala Sekolah Jadi Pelaku Bullying, Korban Trauma hingga Sakit Punggung dan Leher

Polewali- Sebuah video yang memilukan dan penuh amarah menjadi sorotan publik di media sosial. Video amatir yang menyebar luas itu mengungkap aksi bullying atau perundungan keji yang terjadi di dalam sebuah kelas di SMK Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Yang membuat kasus ini semakin menyentak, salah satu pelakunya, seorang siswi bernama R, ternyata adalah anak dari Kepala Sekolah SMK tempat kejadian berlangsung.

Video Amatir Ungkap Aksi Bullying Keji Di SMK Sulbar, Pelaku Anak Kepala Sekolah Sendiri
Video Amatir Ungkap Aksi Bullying Keji Di SMK Sulbar, Pelaku Anak Kepala Sekolah Sendiri

Baca Juga : Muatan Pikap Ludes, 220 Ayam Jadi Korban Tabrakan Innova

Awal Cerita: Cekcok Sepele yang Berujung Petaka

Dugaan kuat, pemicu aksi kekerasan ini berawal dari hal yang sangat sepele: pembagian tugas menyapu pada Jumat pagi, sekitar pukul 07.00 WITA. Namun, yang seharusnya diselesaikan dengan bicara baik, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi korban, seorang siswi berinisial A.

Dalam rekaman video yang beredar, terlihat dengan jelas kedua pelaku, R dan S, bergerak agresif. Aksi dimulai ketika S mendorong dan menjedot kepala A. Eskalasi terus berlanjut ketika R, anak sang kepala sekolah, tak segan menghantam kepala dan bahu bagian belakang A dengan pukulan. Bukan hanya fisik, kata-kata kasar dan hinaan juga dilontarkan kepada A, memperparah luka mental yang dideritanya.

Yang semakin memilukan, aksi kekerasan ini tidak langsung dihentikan. Meskipun beberapa teman sekelas berusaha melerai dan menghalangi, pukulan dan tendangan masih saja berlanjut berkali-kali kepada A yang tak berdaya dan memilih untuk tidak melawan.

Diamnya Korban dan Luka yang Tak Terlihat

“Mulanya cekcok masalah sampah sampai saya dipukul dan ditendang berkali-kali. Saya tidak melawan tapi terus dipukuli hingga pinggang dan leher saya sakit,” ujar A, menceritakan kesaksiannya dari rumah dengan suara lirih.

Korban memendam sendiri trauma ini. Ia tidak berani melaporkan kejadian mengerikan tersebut kepada orang tuanya. Selama dua hari, ia menyimpan rasa sakit dan ketakutannya sendirian. Bagai bom waktu, kebenaran akhirnya terungkap ketika video tersebut menjadi viral di media sosial. Keluarga A pun akhirnya mengetahui penderitaan yang dialami putri mereka, bukan dari keluhannya, tetapi dari aib yang tersebar di dunia maya.

Akibat insiden biadab ini, A tidak hanya menderita luka memar. Ia mengeluhkan rasa sakit yang berkepanjangan di area pundak dan lehernya, yang kemungkinan adalah dampak dari pukulan yang ia terima. Luka fisik ini menjadi pengingat nyata akan trauma psikis yang mungkin akan ia rasakan lebih lama lagi.

Respon Cepat Polisi dan Langkah Damai yang Ditolak Dingin

Menyikapi viralnya video dan laporan dari keluarga, pihak Kepolisian Sektor (Polsek) setempat langsung bergerak cepat. Mereka mendatangi sekolah untuk melakukan penyelidikan mendalam dan mengumpulkan fakta di lapangan. Proses hukum mulai digulirkan untuk menegakkan keadilan.

Di sisi lain, gelombang kecaman publik memaksa pihak pelaku untuk bertindak. Rasjuddin, orang tua dari R yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah, langsung mendatangi rumah orang tua korban, Amir, untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

“Sebagai pimpinan institusi, saya sangat menyayangkan kejadian ini. Saya pertama kali tahu dari media sosial, ada warga yang mengirimkan video itu kepada saya. Belum selesai saya menonton, saya langsung pulang dan menghukum anak saya karena telah berbuat onar hingga viral,” tutur Rasjuddin dengan nada menyesal, setelah mengunjungi rumah korban.

Namun, niat permintaan maaf itu ternyata tidak serta merta diterima dengan lapang dada. Pihak keluarga korban, Amir, menyambut permintaan maaf tersebut dengan sikap yang dingin. Rasa kecewa, marah, dan sakit hati melihat anaknya menjadi korban, membuat mereka belum bisa menerima permintaan maaf tersebut. Bagi mereka, luka yang diderita A bukanlah sesuatu yang bisa dihapus dengan sekadar permintaan maaf.

Dampak dan Refleksi:

Kasus ini menyisakan banyak pertanyaan mendalam tentang lingkungan sekolah, tanggung jawab orang tua, dan pengawasan terhadap kekuasaan. Bagaimana mungkin aksi kekerasan bisa terjadi begitu leluasa di dalam kelas? Sejauh mana anak seorang pejabat di sekolah merasa kebal dari konsekuensi? Dan yang terpenting, bagaimana pemulihan trauma yang dialami A, sang korban, yang harus menanggung beban ganda: luka fisik dan aib yang diviralkan?

Viralnya video ini sekali lagi membuka mata kita semua bahwa perundungan adalah masalah nyata dan berbahaya. Ia bisa terjadi di mana saja, dan seringkali, korban memilih untuk diam dalam penderitaannya.

Tags: aksi bullying aksi kekerasan Polewali

Baca Juga: Rasa Nusantara